Misteri Kaos Kaki Kuantum

odd-socksAlkisah, di sebuah kota yang kerap dilanda bencana alam, hiduplah seorang anak bernama Erwin. Gempa bumi, hujan lebat, dan angin ribut sering membuat kota tersebut kehilangan pasokan listrik. Dalam kondisi itu, darurat bencana diberlakukan. Setiap warga kota harus berkumpul di pusat-pusat evakuasi terdekat dari tempat mereka tinggal. Bagi Erwin yang tinggal di area rumah susun bersama dengan banyak warga lainnya, alarm peringatan bencana yang tak jarang berbunyi di malam hari bersamaan dengan padamnya listrik menjadi momok menakutkan bagi dirinya. Bukan karena takut melihat makhluk aneh-aneh dari dunia antah-berantah, Erwin justru takut kehilangan pasangan kaos kaki yang benar tatkala ia perlu bergegas keluar dari rumah untuk menuju pusat evakuasi.

Apa gerangan penyebab ketakutan tersebut? Erwin rupanya memiliki beberapa pasang kaos kaki sesuai dengan keperluannya setiap keluar rumah. Untuk ke sekolah, ia memiliki kaos kaki berwarna putih. Sementara untuk bermain, ia memiliki kaos kaki berwarna hitam. Setiap kaos kaki putih terdiri dari kaos kaki panjang dan kaos kaki pendek, dan demikian pula dengan kaos kaki hitam. Panjang dan pendeknya kaos kaki yang ia gunakan disesuaikan dengan setelan celana yang dikenakannya.

Dalam kondisi gelap tanpa penerangan, Erwin sering keliru memilih pasangan kaos kaki dari lemari sehingga teman-temannya meledek dirinya ketika berkumpul di pusat evakuasi. Misalnya saja, kaki kanan dengan kaos kaki panjang berwarna hitam, sedangkan kaki kiri dengan kaos kaki pendek berwarna putih, tentu tampak norak dan malunya bukan kepalang. Erwin lantas berpikir keras bagaimana ia dapat mengatasi masalah tersebut untuk kemunculan alarm peringatan bencana di waktu-waktu mendatang.

Sebagai pelajar yang cukup cerdas, Erwin mencoba merancang suatu strategi pemilihan kaos kaki yang tepat dengan memilah kaos kaki berdasarkan warnanya. Idenya adalah dengan mengumpulkan semua kaos kaki berwarna hitam pada sebuah laci tertutup, sedangkan semua kaos kaki berwarna putih dikumpulkan pada laci lainnya. Erwin berpikir bahwa dalam kondisi darurat, ia cukup membuka salah satu laci saja dan mengambil sepasang kaos kaki dari laci tersebut. Perbedaan panjang kaos kaki yang diambil dari sebuah laci pun bisa dirasakan dengan mudah sehingga tidak mungkin ada kekeliruan.

Masalahnya, pernah suatu ketika muncul lagi alarm peringatan bencana dan listrik padam di malam hari, Erwin yang merasa telah mempersiapkan laci kaos kakinya dengan benar, terkejut mendapati suatu fenomena yang tidak ia duga sebelumnya. Saat itu ia mengambil sepasang kaos kaki hitam dari laci kaos kaki hitam. Pilihan panjang kaos kaki pun bisa dirasakannya dengan tepat. Namun, tatkala ia tiba di pusat evakuasi, dengan penerangan yang cukup jelas, ternyata kaos kaki yang digunakannya berbeda warna, satu hitam dan satu putih!

Keterkejutan Erwin tidak berhenti sampai satu peristiwa evakuasi. Beberapa waktu kemudian, ia mencoba cara lain, mengambil sepasang kaos kaki putih dari laci kaos kaki putih. Hasilnya sama seperti kejadian sebelumnya, lagi-lagi ada peluang mendapatkan warna kaos kaki yang tidak sesuai. Karena penasaran, di waktu berikutnya ia ganti strategi. Pada salah satu laci ia masukkan semua kaos kaki panjang, dan pada laci lainnya ia masukkan semua kaos kaki pendek, tak peduli apapun warnanya. Ketika saat gelap ia memilih laci kaos kaki pendek, ternyata kali ini ia mendapati salah satu kaos kakinya justru panjang.

Erwin akhirnya menyerah pada keadaan. Perilaku kaos kakinya pada kedua laci yang berbeda tidak lagi bisa diprediksi dengan tepat. Meskipun ia yakin hanya dirinya sendiri yang memegang kunci kedua laci, dan ia pun yakin sudah menempatkan kaos kaki yang ia inginkan pada tempat yang benar, entah mengapa sekumpulan kaos kaki pada laci yang berbeda seolah-olah bisa saling berkomunikasi satu sama lain, seperti ada yang mengatur kaos kaki tersebut selain dirinya. Entah mengapa pula kaos kaki tersebut seperti lupa dengan “aturan” atau “keadaan” awal yang sudah ditetapkan Erwin.

Saking frustasinya, Erwin membuang semua kaos kaki hitam dan putih miliknya. Ia putuskan untuk membeli sejumlah kaos kaki abu-abu saja dengan panjang yang semuanya seragam. Dengan begitu, tidak akan ada lagi teman-teman yang mengolok-olok dirinya pada kondisi darurat ketika ia kerap keliru mengambil pasangan kaos kaki. Sepanjang sisa hidupnya, Erwin tetap dihantui misteri kaos kaki ini. Bahkan, ia lebih terkejut lagi ketika kelak ia, yang sedang dalam puncak karirnya sebagai fisikawan ternama, mengetahui ternyata seperti itu rupanya cara partikel-partikel berperilaku dengan aturan mekanika kuantum.

Kasihan si Erwin… Schrodinger… Untunglah, kisah ini fiktif. Sayangnya, mekanika kuantum itu nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close